vissaventure.com

Wisata Budaya di Kampung Naga, Mengenal Tradisi dan Kehidupan Sehari-hari Masyarakat - News

Pesona Kampung Naga (Commons.wikimedia.org)

- Kampung Naga, sebuah kampung tradisional yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terus menjadi sorotan sebagai destinasi wisata unik.

Kampung ini akan menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan. Kampung Naga, dengan bangunan yang terbuat sepenuhnya dari alam, mempertahankan tradisi dan kearifan lokal yang telah diturunkan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang mereka.

Luas area Kampung Naga mencapai satu setengah ular dalam ukuran cyber, sebuah pengukuran tradisional yang digunakan oleh penduduk setempat. Hal ini menjadikan Kampung Naga memiliki wilayah yang tetap, tidak boleh bertambah atau berkurang dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Gebyar Wisata & Budaya Jawa Barat 2022 Resmi Digelar! Peserta Pameran: Hari Pertama Rame, Lumayan Kelabakan

Saat ini, logo kampung menampilkan jumlah bangunan sebanyak 112, termasuk tiga bangunan umum. Bangunan umum tersebut meliputi masjid, Balai Kampung, dan taman bunga.

Di bawahnya, terdapat 109 rumah warga yang masing-masing memiliki ciri khas dan penduduknya terdiri dari 297 orang.

Tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal, Kampung Naga juga menarik minat wisatawan mancanegara, terutama dari Jepang. Keberagaman pengunjung ini menambah kehidupan dan interaksi di kampung tersebut.

Sebagian besar masyarakat Kampung Naga menjalani profesi sebagai petani, sehingga saat mengunjungi kampung ini, kita dapat melihat aktivitas mereka di lumbung padi.

Lumbung padi di Kampung Naga juga dikenal sebagai "Jubleg Kampung Naga" karena di sinilah proses pengolahan padi tradisional dilakukan.

Metode pengolahan padi yang masih sangat tradisional terlihat jelas di sini. Padi dipisahkan dari tangkainya dengan cara ditumbuk di lobang besar. Setelah terpisah, padi dipindahkan untuk menghilangkan kulitnya sehingga menjadi beras.

Pengeringan padi dilakukan dengan menumpuknya, meskipun warna berasnya tidak terlalu putih seperti yang biasa kita temui. Padi di Kampung Naga masih mempertahankan sifat alaminya, tidak menggunakan bahan kimia atau proses modern.

Bangunan di kampung ini dulunya terdiri dari 70 bangunan, namun sejak kebakaran terjadi, mereka membangun kembali dengan mempertahankan barang-barang bersejarah dari Kampung Naga.

Sayangnya, dokumen sejarah yang tersedia terbatas karena banyak yang terbakar. Namun, setiap orang dari Kampung Naga memiliki pengetahuan dan cerita yang dapat dibagikan kepada pengunjung yang tertarik.

Selain bertani, kaum perempuan di Kampung Naga juga menggunakan waktu luang mereka untuk membuat kerajinan tangan. Salah satu contohnya adalah pembuatan kerajinan dari bambu, anyaman, dan bahan alami lainnya.

Mereka menghasilkan produk kerajinan yang indah dan bernilai seni tinggi, seperti tas, topi, tikar, dan aneka aksesoris.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat